Rabu, 18 Mei 2016

MACAM-MACAM KESULITAN BELAJAR PRAAKADEMIK


MACAM-MACAM KESULITAN BELAJAR PRAAKADEMIK

A.      Ganguan Perkembangan Bahasa (Disfasia)

Disfasia adalah ketidakmampuan atau keterbatasan kemampuan anak menggunakan simbol linguistik dalam rangka berkomunikasi secara verbal. Gangguan pada anak yang terjadi pada fase perkembangan ketika anak belajar berbicara disebut disfasia perkembangan (developmental dysphasia).

Bicara adalah bahasa verbal yang memiliki komponen artikulasi suara dan kelancaran. Ekspresi bahasa bicara (ujaran) mencangkup empat komponen yaitu : fonem, morfem, sintaksis, semantik, prosodi(intonasi), dan pragmatik. Kesulitan belajar seyogiyanya telah diketahui dan diperbaiki sejak anak berada di usia prasekolah karena berpengaruh terhadap prestasi akademik sekolah.

Disfasia ada dua jenis, yaitu: disfasia reseptif dan disfasia ekspresif. Pada disfasia reseptif anak mengalami ganguan pemahaman dalam penerimaan bahasa. Anak dapat mendengar kata-kata yang diucapkan, tetapi tidak mengerti apa yang didengar karena mengalami gangguan dalam memproses stimulus yang masuk. Pada disfasia ekspresif anak tidak mengalami gangguan pemahaman bahasa, tetapi ia sulit mengespresikan kata secara verbal. Anak dengan gangguan perkembangan bahasa akan berdampak pada kemampuan membaca dan menulis.

 

B.       Gangguan Motorik dan Persepsi

Gangguan perkembangan motorik disebut Dispraksia, mencangkup pada gangguan motorik kasar, penghayatan tubuh, dan motorik halus.

Gangguan persepsi mencangkup persepsi penglihatan atau persepsi visual, persepsi pendengaran atau auditoris, persepsi heptik (raba dan gerak atau taktil dan kinetik), dan intelegensi sistem persepsual. Jenis gangguan ini perlu penanganan secara sistematis karena berpengaruh terhadap perkembangan kognitif yang pada gilirannya juga dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar akademik.

Dispraksia atau sering disebut Clumsy adalah keadaan sebagai akibat adanya gangguan dalam intelegensi auditori-motor. Anak tidak mampu melakukan gerakan anggota tubuh dengan benar walaupun tidak ada kelumpuhan anggota tubuh. Manifestasinya dapat berupa disfasia verbal (bicara) dan non verbal (menulis, bahasa isyarat, dan pantomim).

Ada beberapa jenis dispraksia, yaitu 1) dispraksia ideomotoris, 2) dispraksia ideosional, 3) dispraksia konstruktional, 4) disprasia oral.

1.         Dispraksia idemotoris, ditandai kurangnya kemampuan dalam melakukan gerakan praktis sederhana, seperti menggunting, menggosok gigi, atau menggunakan sendok makan. Gerakannya terkesan canggung dan kurang luwes dispraksia ini sering merupakan kendala perkembangan bicara.

2.         Dispraksia idesional. Ditandai anak dapat melakukan gerakan kompleks tetapi tidak mampu melyelesaikan secara keseluruhan terutama dalam kondisi lingkungan yang tidak tenang. Kesulitannya terletak pada urutan gerakan, anak sering bingung mengawali suatu aktivitas, misalnya mengikuti irama musik.

3.         Dipraksia konstruksional, ditemukan pada anak yang mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan-gerakan kompleks yang berkaitan dengan bentuk, seperti menyusun balok dan menggambar. Kondisi ini dapat mempengaruhi gangguan menulis (disgrafia). Hal ini disebabkan karena kegagalan dalam konsep visiokonstruktif.

4.         Disfraksia oral, sering ditemukan pada anak yang mengalami disfasia perkembangan (gangguan perkembangan bahasa). Anak mempunyai gangguan dalam bicara karena adanya gangguan dalam konsep gerakan motorik di dalam mulut. Berbicara dipandang sebagai bentuk gerakan halus dan terampil dalam rongga mulut sehingga anak kurang mampu jika diminta menirukan gerakan, misalnya menjulurkan atau menggerakkan lidah, mengembungkan pipi, menarik bibir kedepan, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

YEL-YEL

Kesulitan belajar praakademik

Gangguan perkembangan bahasa, Disfasia

Disfasia reseptif dan disfasia ekspresif

Gangguan motorik dan persepsi

Motorick kasar, penghayatan tubuh, dan motorik halus

Persepsi penglihatan, pendengaran dan heptik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Yusuf, muhawir dkk. 2003. Pendidikan bagi anak dengan problema belajar. Solo: Tiga Serangkai

 

 

MACAM-MACAM KESULITAN BELAJAR


MACAM-MACAM KESULITAN BELAJAR

A.      Kesulitan Belajar Membaca (Disleksia)

Kesulitan belajar membaca sering disebut disleksia. Kesulitan belajar membaca yang berat dinamakan aleksia. Kemampuan membaca tidak hanya merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang akademik, tetapi juga untuk meningkatan keterampilan kerja dan memungkinkan orang untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat secara bersama. Ada dua jenis pelajaran membaca, yaitu membaca permulaan atau membaca lisan dan membaca pemahaman. Mengingatkan pentingnya kemampuan membaca bagi kehidupan, kesulitan belajar membaca hendaknya ditangani sidini mungkin.

Ada dua tipe disleksia, yaitu disleksia auditoris dan disleksia visual. Gejala-gejala disleksia auditoris adalah sebagai berikut:

1.      Kesulitan dalam diskriminasi auditoris dan persepsi sehingga mengalami kesulitan dalam analisis fonetik, contohnya anak tidak dapat membedakan kata “kakak, katak, kapak”.

2.      Kesulitan analisis dan sintesis auditoris, contohnya “ibu” tidak dapat diuraikan menjadi “i-bu” atau problema sintesa “p-i-ta” menjadi “pita”. Gangguan ini dapat menyebabkan kesulitan membaca dan mengeja.

3.      Kesulitan reauditoris bunyi atau kata. Jika diberi huruf tidak dapat mengingat bunyi huruf atau kata tersebut, atau kalau melihat kata tidak dapat mengungkapkannya walaupun mengerti arti kata tersebut.

4.      Membaca dalam hati lebih baik membaca lisan.

5.      Kadang-kadang disertai gangguan urutan auditoris.

6.      Anak cenderung melakukan aktivitas visual.

Gejala-gejala disleksia visual adalah sebagai berikut:

1.      Tendensi terbalik, misalnya b menjadi d, p menjadi g, h menjadi n, m menjadi w, dan sebagainya.

2.      Kesulitan diskriminasi, mengucapkan huruf atau kata yang mirip.

3.      Kesulitan mengikuti dan mengingat urutan visual. Jika diberi huruf cetak untuk menyusun kata mengalami kesulitan, misalnya kata “ibu” menjadi ubi.

4.      Memori visual terganggu.

5.      Kecepatan persepsi lambat.

6.      Kesulitan analisis dan sintesis visual.

7.      Hasil tes membaca buruk.

8.      Biasanya lebih baik dalam kemampuan aktivitas auditoris.

 

Ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan membaca:

1.    Tidak lancar dalam membaca.

2.    Sering banyak kesalahan dalam membaca.

3.    Kemampuan memahami isi bacaan sangat rendah.

4.    Sulit membedakan huruf yang mirip.

 

B.       Kesulitan Belajar Menulis (Disgrafia)

Kesulitan belajar menulis disebut juga disgrafia. Kesulitan belajar menulis yang berat disebut agrafia. Ada tiga jenis pelajaran menulis, yaitu:

1.    Menulis permulaan.

2.    Mengeja atau dikte.

3.    Menulis ekspresif.

Kegunaan kemampuan menulis bagi seorang siswa adalah untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Oleh karena itu, kesulitan belajar menulis hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarkan disekolah.

Ciri-ciri anak yang kesulitan menulis:

1.      Tulisan terlalu jelek atau tidak terbaca.

2.      Sering terlambat dibanding yang lain dalam meyalin tulisan.

3.      Tulisan banyak salah, banyak huruf terbalik, atau hilang.

4.      Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.

5.      Menulis huruf tidak sesuai dengan kaidah bahasa.

 

C.      Kesulitan Belajar Berhitung (Diskalkulia)

Kesulitan belajar berhitung disebut juga diskalkulia. Kesulitan belajar berhitung yang berat disebut akalkulia. Ada tiga elemen pelajaran berhitung yang harus dikuasai oleh anak. Ketiga elemen tersebut adalah:

1.    Konsep.

2.    Kompetensi.

3.    Pemecahan masalah.

Seperti halnya bahasa, berhitung yang merupakan bagian dari matematika adalah sarana berpikir keilmuan. Oleh karena itu, seperti halnya kesulitan belajar bahasa, kesulitan berhitung hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi nak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran lain di sekolah.

 

Ciri-ciri anak yang kesulitan berhitung:

1.    Sering sulit membedakan tanda-tanda dalam hitungan.

2.    Sering sulit mengoperasi hitungan/bilangan meskipun sederhana.

3.    Sering salah membilang dengan urut.

4.    Sulit membedakan angka yang mirip, misalnya 6 dengan 9, 17 dengan 71.

5.    Sulit membedakan bangun-bangun geometri.

 

D.      Kesulitan dalam Bahasa (Disfasi)

Disfasia adalah ketidakmampuan atau keterbatasan kemampuan anak menggunakan simbol linguistik dalam rangka berkomunikasi secara verbal. Gangguan pada anak yang terjadi pada fase perkembangan ketika anak belajar berbicara disebut disfasia perkembangan (developmental dysphasia)

 

 

 

YEL-YEL

Macam-macam kesulitan belajar

Kesulitan belajar membaca

Kesulitan belajar menulis

Kesulitan belajar berhitung

Dan kesulitan belajar bahasa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Yusuf, muhawir dkk. 2003. Pendidikan Bagi Anak Dengan Problema Belajar. Solo: Tiga Serangkai.

 

ASPEK-ASPEK KESULITAN BELAJAR


ASPEK-ASPEK KESULITAN BELAJAR

A.      Aspek Medis

Aspek medis adalah aspek jasmani atau fisiologis.

1.         Keadaaan Tonus Jasmani Pada Umumnya. Keadaaan tonus jasmani pada umumnya ini dapat dikatakan melatarbelakangi aktivitas belajar; keadaan jasmani yang kurang segar; keadaan jasmani yang lelah lain pengaruhnya daripada yang tidak lelah. Dalam hubungan dengan hal ini ada dua hal yang perlu dikemukakan.

a.         Nutrisi harus cukup karena kekurangan kadar makanan ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani, yang pengaruhnya dapat berupa kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah, dan sebagainya. Terlebih-lebih bagi anak-anak yang masih sangat muda, pengaruh itu besar sekali. Hasil-hasil penyelidikan Danziger, Paul Lazarsfeld, Netschareffe, Else Liefmann, S. Holingworth, Baldwin yang dikutip oleh Ch. Buhler (1950: 105-112) dalam Sumadi Suryabrata, kiranya dapat merupakan ilustrasi yang sangat berharga.

b.        Beberapa penyakit yang kronis sangat menggangu belajar itu. Penyakit-penyakit seperti pilek, influenza, sakit gigi, batuk dan yang sejenis dengan itu biasanya diabaikan karena dipandang tidak cukup serius untuk mendapatkan perhatian dan pengobatan; akan tetapi dalam kenyataannya penyakit-penyakit semacam ini sangat menggangu aktivitas belajar itu.

 

2.         Keadaan Fungsi-Fungsi Jasmani Tertentu Terutama Fungsi-Fungsi Pancaindera. Pancaindera dapat dimisalkan sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh ke dalam individu. Orang mengenal dunia sekitarnya dan belajar dengan mempergunakan pancainderanya. Baiknya berfungsinya pancaindera merupakan syarat dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik. Dalam sistem persekolahan dewasa ini di antara pancaindera itu yang paling memegang peranan dalam belajar adalah mata dan telinga. Karena itu adalah menjadi kewajiban bagi setiap pendidik untuk menjaga, agar pancaindera amak-didiknya dapat berfungsi dengan baik, baik penjagaan yang bersifat kuratif maupun yang bersifat preventif, seperti misalnya adanya pemeriksaaan dokter secara periodik, penyediaan alat-alat pelajaran serta perlengkapan yang memenuhi syarat, dan penempatan murid-murid secara baik di kelas (pada sekolah-sekolah), dan sebagainya.

 

B.       Aspek Psikologis

Psikologis artinya jiwa. Arden N. Frandsen dalam Sumadi Suryabrata mengatakan bahwa hal yang mendorong seseorang untuk belajar itu adalah sebagai berikut:

1.      Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas.

2.      Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju.

3.      Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orangtua, guru, dan teman-teman.

4.      Adanya keinginan untuk memperbaiki kagagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetensi.

5.      Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.

6.      Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar. (Frandsen, 1961: 216) dalam Sumadi Suryabrata.

Maslow (menurut Frandsen, 1961: 234) dalam Sumadi Suryabrata, mengemukakan motif-motif untuk belajar itu adalah:

1.      Adanya kebutuhan fisik.

2.      Adanya kebutuhan akan rasa aman, bebas dari kekhawatiran.

3.      Adanya kebutuhan akan kecintaan dan penerimaan dalam hubungan dengan orang lain.

4.      Adanya kebutuhan untuk mendapatkan kehormatan dari masyarakat.

5.      Sesuai dengan sifat untuk mengemukakan atau mentengahkan diri (aktualisai diri)

Apa yang telah dikemukakan itu hanyalah sekadar penyebutan sejumlah kebutuhan-kebutuhan saja, yang tentu saja dapat diambah lagi; kebutuhan-kebutuhan tersebut tidaklah lepas satu sama lain, melainkan sebagai suatu keseluruhan (suatu kompleks) mendorong belajarnya anak. Kompleks kebutuhan-kebutuhan itu sifatnya individual, berbeda dari anak yang satu ke anka lainnya. Pendidik seberapa dapat haruslah berusaha mengenal kebutuhan yang mana yang terutama dominan pada anak didiknya.

Selanjutnya suatu pendorong yang biasanya besar pengaruhnya dalam belajarnya anak-anak didik kita ialah cita-cita. Cita-cita merupakan pusat dari bermacam-macam kebutuhan, artinya kebutuhan-kebutuhan biasanya disentralisasikan di sekitar cita-cita itu, sehingga dorongan tersebut mampu memobilisasikan energy psikis untuk belajar. Dalam pada itu anak-anak yang masih sangat muda biasanya belum benar-benar menyadari cita-citanya yang sebenarnya; karena itulah mereka perlu dibuatkan tujuan-tujuan sementara yang dekat –sebagai cita-cita sementara—supaya hal ini merupakan motif atau pendorong yang cukup kuat bagi belajarnya anak-anak itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

YEL-YEL

Aspek-Aspek Kesulitan Belajar

Aspek Medis, Jasmani….

Aspek Psikologis, Jiwa….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Suryabrata, Sumadi. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers

TEORI-TEORI BELAJAR


TEORI-TEORI BELAJAR

1.    Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Daya

Ahli-ahli ilmu jiwa daya mengemukakan suatu teori bahwa jiwa manusia mempunyai daya-daya. Daya-daya ini adalah kekuatan yang tersedia. Manusia hanya memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya dirasakan ketika dipergunakan untuk sesuatu hal. Daya-daya itu misalnya daya mngenal, daya mengingat, daya berpikir, daya fantasi, dan sebagainya.

Untuk melatih daya ingat seseorang harus melakukannya dengan cara menghafal kata-kata atau angka, istilah-istilah asing, dan sebagainya. Untuk mempertajam daya berpikir seseorang harus melatihnya dengan memecahkan permasalahan dari yang sederhana sampai yang kompleks. Untuk meningkatkan dayafantasi seseorang harus membiasakan diri merenungkan sesuatu. Dengan usaha tersebut maka daya-daya itu dapat tumbuh dan berkembang dan tidak lagi bersifat laten (tersembunyi) di dalam diri.

Pengaruh teori ini dalam belajar adalah ilmu pengetahuan yang didapat hanyalah bersifat hafalan-hafalan belaka. Penguasaan bahan yang bersifat hafalan biasanya jauh dari pengertian. Walaupun begitu, teori ini dapat digunakan untuk menghafal rumus, dalil, tahun, kata-kata asing, dan sebagainya.

Oleh karena itu, menurut para ahli ilmu jiwa daya, bila ingin berhasil dalam belajar, latihlah semua daya yang ada didalam diri.

2.    Teori Tanggapan

Teori tanggapan adalah suatu teori belajar yang menentang teori belajar yang dikemukakan oleh ilmu jiwa daya. Herbart adalah orang yang mengemukakan teori tanggapan. Menurut Herbart teori yang dikedepankan oleh ilmu jiwa daya tidak ilmiah, sebab psikologi daya tidak dapat menerangkan kehidupan jiwa. Oleh karena itu, Herbart mengajukan teorinya, yaitu teori tanggapan. Menurutnya unsur jiwa yang paling sederhana adalah tanggapan.

Menurut teori tanggapan belajar adalah memasukkan tanggapan sebanyak-banyaknya, berulang-ulang, dan sejelas-jelasnya. Banyak tanggapan berarti dikatakan pandai. Sedikit tanggapan berarti dikatakan kurang pandai. Maka orang pandai berarti orang yang banyak mempunyai tanggapan yang tersimpan dalam otaknya berupa ilmu pengetahuan yang didapat setelah belajar.

3.    Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Gestalt

Gestalt adalah sebuah teori belajar yang dikemukakan oleh Koffka dan Kohler dari Jerman. Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian. Sebab keberadaan bagian-bagian itu didahului oleh keseluruhan. Misalnya seorang pengamat yang mengamati seseorang dari kejauhan. Orang yang jauh itu pada mulanya hanyalah satu titik hitam yang terlihat bergerak semakin dekat dengan si pengamat. Semakin dekat orang itu dengan si pengamat maka semakin jelas terlihat bagian-bagian atau unsur-unsur anggota tubuh orang tersebut. Si pengamat dapat berkata bahwa orang itu mempunyai kepala, tangan, kaki, dahi, mata, hidung, mulut, telinga, baju, celana, sepatu, kacamata, jam tangan, dan sebagainya.

Dalam belajar, menurut teori Gestalt, yang terpenting dalah penyesuaian pertama, yaitu mendapatkan respons atau tanggapan yang tepat. Belajar yang terpenting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight. Belajar dengan pengertian lebih dipentingkan daripada hanya memasukkan sejumlah kesan. Belajar dengan insight (pengertian) adalah sebagai berikut.

a.     Insight tergantung dari kemampuan dasar.

b.    Insight tergantung dari pengalaman masa lampau yang relevan (dengan apa yang dipelajari).

c.     Insight hanya timbul apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa, sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati.

d.    Insight adalah hal yang harus dicari, tidak dapat jatuh dari langit.

e.     Belajar dengan insight dapat diulangi.

f.     Insight sekali didapat dapat digunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.                    

Prinsip-prinsip belajar menurut teori Gestalt

a.     Belajar berdasarkan keseluruhan

       Bahan pelajaran yang telah lama tersimpan diotak dihubung-hubungkan dengan bahan pelajaran yang baru saja dikuasai, sehingga tidak terpisah, berdiri sendiri.

b.    Belajar adalah suatu proses perkembangan

       Manusia sebagai suatu organisme yang berkembang, kesediaannya mempelajari sesuatu tidak hanya ditentukan oleh kematangan jiwa batiniah, tetapi juga perkembangan anak karena lingkungan dan pengalaman.

c.     Anak didik sebagai organisme keseluruhan

       Anak didik belajar tidak hanya intelektualnya saja, tetapi juga emosional dan jasmaniahnya.

d.    Terjadi transfer

       Bila dalam suatu kemampuan telah dikuasai betul-betul, maka dapat dipindahkan untuk menguasai kemampuan yang lain. Bel;ajar matematika, misalnya, bila telah dikuasai dapat dipergunakan dalam masalah jual beli bahan-bahan tertentu.

e.     Belajar adalah reorganisasi pengalaman

       Pengalaman adalah hasil dari suatu interaksi antara anak didik dengan lingkungannya. Anak kena api, misalnya, kejadian ini menjadi pengalaman bagi anak. Anak merasa panas kena api. Kulitnya mengelupas akibat terbakar.  Anak belajar dari pengalamannya bahwa kena api itu panas dan api itu bisa membakar kulit manusia. Karena pengalamannya itu, anak didik tidak akan mengulangi lagi untuk bermain-main dengan api.

f.     Belajar harus dengan insight

       Insight adalah suatu saat dalam proses belajar dimana seseorang melihat pengertian (insight) tentang sangkut paut dan hubungan-hubungan tertentu dalam unsur yang mengandung suatu problem.

g.    Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan, dan tujuan

       Hal itu terjadi bila banyak berhubungan dengan apa yang diperlukan anak didik dalam kehidupan sehari-hari. Disekolah progresif, anak didik diajak membicarakan tentang proyek/unit agar tahu tujuan yang akan dicapai dan yakin akan manfaatnya.

h.    Belajar berlangsung terus-menerus

       Belajar tidak hanya disekolah, tetapi juga diluar sekolah. Anak didik dapat memperoleh pengetahuan/pengalamannya sendiri-sendiri di rumah atau di masyarakat. Pihak sekolah harus bekerja sama dengan orang tua di rumah dan di masyarakat dalam kehidupan sosial yang lebih luas, agar semua turut serta membantu perkembangan anak secara harmonis.

4.    Teori Belajar dari R. Gagne

Dalam masalah belajar, Gagne memberikan dua defenisi.

a.     Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh mitivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.

b.    Belajar adalah pengetahuan  atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.

Gagne mengatakan bahwa segala sesuatu yang dipelajari oleh manusia dapat dibagi menjadi lima kategori yang disebut the domainds of learning, yaitu sebagai berikut ini.

1.    Keterampilan motoris (motor skill)

       Dalam hal ini perlu koordinasi dari berbagai gerakan badan, misalnya melempar bola, main tenis, mengemudi mobil, mengetik huruf R.M, dan sebagainya.

2.    Informasi verbal

       Orang dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar; dalam hal ini dapat dimengerti bahwa untuk mengatakan sesuatu itu perlu inteligensi.

3.    Kemampuan intelektual

       Manusia mengadakan interaksi dengan dunia luar dengan menggunakan simbol-simbol. Kemampuan belajar dengan cara inilah yang disebut “kemampuan intelektual”. Misalnya, membedakan huruf m dan n, menyebutkan tanaman yang sejenis.

4.    Strategi kognitif

       Ini merupakan organisasi keterampilan yang internal (internal organized skill) yang perlu untuk belajar mengingat dan berpikir. Kemampuan ini berbeda dengan kemampuan intelektual, karenma ditujukan ke dunia luar, dan tidak dapat dipelajari hanya dengan berbuat satu kali sertaperbaikan-perbaikan terus-menerus.

5.    Sikap

       Kemampuan ini tak dapat dipelajari dengan ulangan-ulangan, tidak tergantung atau dipengaruhi oleh hubungan verbal seperti halnya domain yang lain. Sikap ini penting dalam proses belajar; tanpa kemampuan ini belajar tak akan berhasil dengan baik.

 

5.    Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Asosiasi

Teori asosiasi disebut juga teori sarbons. Sarbons singkatan dari Stimulus, Respons, dan Bond. Stimulus berarti rangsangan, respons berarti tanggapan, dan bond berarti dihubungkan.  Rangsangan diciptakan untuk memunculkan tanggapan kemudian dihubungkan antara keduanya dan terjadilah asosiasi.

Teori asosiasi berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Penyatupaduan bagian-bagian melahirkan konsep keseluruhan.

Dari aliran ilmu jiwa asosiasi ada dua teori yg sangat terkenal, yaitu teori konektionisme dari Thorndike dan teori conditioningdari Ivan P. Pavlov.

a.    Teori    Konektionisme

Ada tiga hukum belajar yg utama dan ini diturunkannya dari hasil-hasil penelitiannya.

1.    Hukum Efek

Hukum ini menyebutkan bahwa keadaan memuaskan menyusul respons memperkuat pautan antara stimulus dan tingkah  laku. Sedangkan keadaan yang menjengkelkan memperlemah pautan itu.

2.    Hukum latihan

Pengalaman yg diulang-ulang akan memperbesar peluang timbulnya respons (tanggapan) yg benar. Akan tetapi pengulangan-pengulangan yang tidak disertai keadaan yang memuaskan tidak akan meningkatkan belajar.

3.    Hukum kesiapan

Hukum ini melukiskan syarat-syarat yg menentukan keadaan yg disebut “memuaskan”, atau “menjengkelkan”.  Secara singkat, pelaksanaan tindakan sebagai respons terhadap suatu  impuls yg kuat menimbulkan kepuasaan, sedangkan menghalang-halangi pelaksanaan tindakan atau memaksanya menimbulkan kejengkelan.

Jadi, menurut Thorndike dasar dari belajar tidak lain adalah asosiasi antara kesan panca indra dengan impuls untuk bertindak. Berkat latihan yang terus-menerus, hubungan antara stimulus dan respons itu akan menjadi terbiasa dan otomatis.

Terhadap teori konektionisme ini ada beberapa kelemahan dalam pelaksanaannya, yaitu :

a.     Belajar menurut teori ini bersifat mekanistis

       Kelemahannya adalah anak didik banyak yang hafal bahan pelajaran, tetapi mereka kurang mengerti cara pemakaiannya.

b.    Pelajar bersifat teacher centered (terpusat pada guru)

       Guru yang aktif dalam membelajarkan anak didik. Guru pemberi stimulus. Guru yang melatih dan menentukan apa yang harus dikerjakan oleh anak didik.

c.     Anak didik pasif

Anak didik kurang terdorong untuk berpikir dan juga ia tidak ikut menentukan bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Anak didik lebih mengharapkan stimulus dari guru.

d.    Teori ini lebih mengutamakan materi

       Materi cenderung dejejalkan sebanyak-banyaknya ke dalam otak anak didik (cara-cara pendidikan tradisional) dengan harapan anak didik banyak mempunyai pengetahuan. Pola belajar seperti ini cenderung menjadi intelektualistik.

b.    Teori Conditioning

Dalam kehidupan sehari-hari seseorang pasti merasakan sesuatu yang merangsang air liurnya untuk keluar. Misalnya, bagi para ibu yang sedang hamil dan kebetulan mengidam ingin memakan buah-buahan yang asam-asam, ketika mereka melihat buah asam-asaman tentu saja air liurnya keluar tanpa disadari. Keluarnya tentu saja secara refleks (refleks bersyarat).

Bentuk-bentuk kelakuan seperti itu terjadi karena adanya conditioning. Karena kondisinya diciptakan, maka sudah menjadi kebiasaan. Kondisi yang diciptakan itu merupakan syarat, memunculkan refleks bersyarat.

Kelemahan-kelemahannya teori ini dalam kegiatan belajar adalah.

1.    Percobaan labolatorium berbeda dgn keadaan yang sebenarnya

2.    Pribadi seseorang (cita-cita, kesanggupan, minat, emosi, dan sebagainya) dapat mempengaruhi hasil eksperimen.

3.    Respons mungkin dipengaruhi oleh stimulus yang tak dikenal. Dengan kata lain, tidak dapat diramalkan lebih dahulu, stimulus manakah yang menarik perhatian seseorang.

4.    Teori ini sangat sederhana dan tidak memuaskan untuk menjelaskan segala seluk-beluk belajar yang ternyata sangat kompleks.

 

 

 

YEL-YEL

 

Teori kesulitan belajar

Teori Ilmu Jiwa daya adalah hafalan

Teori Tanggapan

Teori Gestalt adalah keseluruhan lebih penting dibanding sebagian

Teori R. Gagne dan Teori Ilmu Jiwa Asosiasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Djaramah, Syaiful Bahri.2011.Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta

 

 

 

           

 

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "